Cerpen Gustian in the house

  • Share

Paslen-Pagi hari di sebuah desa di antara dua bukit yang boleh dibilang masih jauh dari kata modern. Seorang remaja yang hari demi harinya dihabiskan dengan mengelola kebun yang tidak begitu luas. Sebuah kebun yang dimiliki salah satu keluarga yang boleh dibilang terpandang di desa tersebut. Memanglah salah satu anggapan masyarakat didesa tersebut ketika seseorang mempunyai banyak kebun merupakan salah satu tanda bahwa orang tersebut di katakan orang berpunya.
Sebut saja remaja itu Gustian, tapi masyarakat di sana sering memanggil dengan nama Agus. Pagi hari dimana langit masih gelap gulita Agus telah bangun di tidur lelapnya, kewajibannya sebagai pengurus kebun yang telah juragan percaya, Agus hanya menjalankan tugasnya sebagai orang yang harus bertanggung jawab dengan kepercayaan orang berikan kepadanya.


Tidak butuh waktu lama perjalanan menuju kebun memanglah amat dekat. Hanya bebarapa menit saja Agus telah sampai di kebun juragan. Berbekal cangkul yang telah ia bawa dari rumah, Agus memulai pekerjaannya dari mulai membersihkan rumput rumput liar di antara pohon-pohon mangga di kebun itu. Karena memang kebun tersebut tidaklah besar, Agus tak butuh waktu lama untuk membersihkan kebun tersebut.
Di perjalanan pulang Agus bertemu teman sekolahnya yang bernama Andin, sekolah sekaligus anak juragan pemilik kebun yang Agus kelola.
“Selamat pagi Gus,” Ucap Andin.
“Pagi juga Din.”
“Habis dari kebun yah?” tanya Andin dengan baju sekolah yang sudah sangatlah rapi.
“Iya Din habis dari kebun.” Jawab Agus.
“Terkadang aku merasa heran sama kamu Gus, kamu tiap pagi pergi ke kebun lalu pergi ke sekolah tetapi nilai yang kamu dapat selalu bagus, bahkan aku mungkin juga tidak bisa menyusul apa yang kamu dapat di sekolah,” tambah Andin.
“Ah katamu memang seperti itu dari pertama kita masuk SMA padahal kamu lebih dari apa yang kamu ucapkan tadi,” jawab Agus.
“Yasudah sampai bertemu di sekolah yah, awas jangan sampai terlambat lagi,” ucap Andin seraya meninggalkan Agus.
Dengan cangkul di tangan dan juga tergesa-gesa Agus kembali melangkah pulang. Sampai dirumah Agus mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Ibu Agus yang berada di rumah juga sudah mempersiapkan segala sesuatu dan keperluan sekolah Agus sedari tadi.
“Bu Agus pergi sekolah dulu yah, jangan lupa doakan Agus,” sambil sedikit berlari Agus meninggalkan ibunya, dengan sepeda tua nya Agus pergi ke sekolah.
“Jangan lupa bekalnya di habiskan,” teriak ibunya.
Waktu masih menunjukan pukul tujuh kurang ketika Agus sampai di sekolah, dan hari ini Agus lolos dari hukuman pak satpam yang sudah tidak merasa aneh ketika menggetahui Agus lah yang terlambat, karena mungkin Agus sudah bisa menjadi kategori salah satu anggota member murid yang selalu terlambat sampai ke sekolah.
Disekolah Agus memang seorang murid yang amat lah pintar. Tidak jarang Agus di percaya mewakili sekolahnya untuk mengikuti Oimpiade di kota seberang. Sebelum masuk ke kelas sebuah suara memanggil nama Agus dan suara itu berasal dari salah satu guru yang mengajar di sana.
“Gustian kemarilah,” ucap pak Warman salah satu guru di sekolah itu.
“Baik pak,” jawab Agus.
“Nanti di sela jam istirahat kamu menghadap keruangan bapak yah,” jangan lupa tambah pak Warman.
“Siap pak laksanakan,” jawab Agus.
Tidak terasa jam telah menunjukan waktu untuk istirahat. Lonceng tanda istirahat pun berbunyi. Agus yang sudah berjanji akan keruangan pak Warman langsung bergegas melangkah meunju ruangan pak Warman. Seketika Agus mengetuk pintu dan masuk ke ruangan tersebut. Disana Agus telah melihat Andin yang sudah terduduk di sebuah kursi panjang di sudut ruangan itu.
“Silahkan duduk Gustian,” pak Warman mempersilahkan.
“Ada apa yah pak, kami berdua di panggil kemari,” tanya Andin keheranan.
“Jadi kalian di panggil kemari atas perintah bapak kepala sekolah untuk kembali mewaliki sekolah ini untuk mengikuti olimpiade yang akan di adakan di tahun ini,” jelas pak Warman. Pak Warman menjelaskan bahwa meraka kembali di pilih di karenakan pada tahun kemarin mereka berdua juga telah membuat harum nama sekolah dengan menyabet sekaligus dua piala juara satu dan dua, dimana Agus menjadi juara satu dan Andin menjadi juara dua di olimpiade tersebut.
Setelah mendengar penjelasan yang di berikan pak Warman Agus dan Andin kembali menuju kelas masing-masing.
Di rumah Agus hanya tinggal berdua bersama ibunya, karena ayah Agus harus meninggalkan dirinya dan ibunya untuk selama-lamanya ketika Agus masih sangatlah kecil. Untuk biaya hidup sehari-hari Agus dan ibunya hanya mengandalkan penghasilan dari merawat kebun milik ayah Andin yang sekaligus juragan di sana. Biaya sekolah Agus dapatkan dari hasil beasiswa yang telah Agus dapatkan ketika berhasil medapatkan juara olimpiade di tahun lalu. Beasiswa yang di terima Agus ialah di bebaskannya seluruh pembayaran sampai ketika lulus nanti.
Di tahun terakhirnya di sekolah Agus berharap nanti di olimpiade tahun ini juga mendapatkan kembali juara pertama sebagai kenang-kenangan dirinya kepada sekolah ini.
Hari-hari sebagai pengurus kebun milik juragan tidak pernah Agus lupakan. Di hari minggu dimana sekolah sedang libur Agus akan lebih lama berada di kebun, akan tetapi hari minggu ini Agus pergi ke kebun tidak hanya membawa cangkul akan tetapi juga sekarang Agus membawa beberapa buku.
Di kebun di ketika Agus istirahat dan membuka bukunya Andin tiba-tiba datang, dengan membawa rantang makanan Andin menyapa Agus dan langsung duduk di samping Agus di sebuah gajebo yang ada di kebun tersebut.
“Aku tahu kamu belum makan hari ini, ini aku bawakan pisang goreng buat kamu,” sambil andin menyodorkan rantang berisi makanan tersebut.
“Tumben kamu kesini? Padahal kamu anti kan yang namanya kebun,” ucap Agus.
“Kamu jangan meledeku, Aku tidak pernah ke kabun karena tidak ada urusan saja,” jawab Andin dengan muka sedikit kesal.
“Oh jadi sekarang kamu ke kebun karena ada urusan, kalau boleh tahu urusan apa nih.”
“Yaudah aku pergi aja sekarang,” jawab Andin kesal.
“Aku hanya bercanda andin, jangan marah gitu dong.”
“Abisnya kamu bikin aku kesel terus, aku kesini hanya untuk ngajak belajar aja buat nanti olimpiade,” tambah Andin.
Karena Agus dan Andin terlalu asik belajar sampai mereka baru sadar bahwa hari sudah mulai sore dengan pertanda matahari sudah berada di ufuk barat.
“Aduh udah sore saja, aku harus pulang,” ucap Andin. Setelah Anddin merapihkan rantang makanan tadi dan beranjak pulang Gustian menarik tangan Andin.
“Sini duduk sebentar,” ucap Agus.
“Ada apa hari sudah sore aku takut di marahin sama ayah aku,” balas Andin.
“Sebentar saja, aku mau ngomong satu filosofi keinginan aku selama ini. Kamu tahu cangkul disana? Tanya Agus.
“Kamu jangan bercanda, mana ada filosofi dari cangkul itu,” balas Andin.
“Jangan salah itu adalah salah satu filosofi diriku saat ini. Memang cangkul hanyalah sebuah benda, alat ataau apalah, tapi dengan cangkul kita bisa mengetahui apa yang ada di dalam tanah. Begitupun aku, sebenarnya aku ingin sekali tahu segala sesuatu dalam hidup ini. Makannya sampai saat ini aku belajar dan terus belajar berharap segalanya aku bisa tahu, walaupun aku tahu itu tidak mungkin.
“Sudah itu saja, aku kira kamu mau ngomong tentang hal lain, tapi aku setuju dengan filosofi cangkul mu itu,” tambah Andin.
Mereka berdua akhirnya pulang.
Sesampainnya di rumah agus langung membersihkan alat kebunnya dan ibunya Agus datang menghampirnya.
“Nak ko baru pulang jam segini? Tanya ibu.
“Ia bu, tadi ada Andin datang ke kebun dan kita belajar di sana makanya Agus baru pulang.”
“Oh, yasudah sekarang kamu mandi dan langsung makan ibu sudah masak makanan kesukaan kamu.”
Suara hewan malam mulai terdengar, ranting-ranting pohon yang beradu di tiup angin membuat malam semakin tenggelam dalam gelap. Agus yang sedari tadi tengah belajar untuk mempersiapkan olimpiade di sekolahnya tersadar bahwa ibunya sekarang berada di belakang dirinya.
“Kamu memang anak yang rajin nak, belajarlah nak kejar apa yang kamu mau, meskipun ibu tak bisa membantu mu,” ucap ibu sambil setetes air mata keluar dari matanya.
“Ibu jangan bilang seperti itu, dengan adanya ibu disini, doa ibu yang aku dengar di malam hari yang juga namaku di sebut di dalamnya sudah sangat lah cukup bagiku bu,” ucap Agus.
“Ibu hanya bisa mendoakan apa yang kamu inginkan bisa tercapai nak,” ucap ibu yang sekarang sedang memeluk Agus.
Di rumah Andin kini dia hanya bisa tersenyum membayangkan apa yang telah di ucapkan Agus tentang cangkul. Menurutnya, apa yang di katakan Agus memang benar adanya. Ketika sedang tersenyum Andin di kagetkan ketika ayahnya masuk ke kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
“Nak boleh pinjamkan ayah pulpen?” tanya ayah Andin.
“ini yah, ayah habis dari mana tadi keluar rumah?” tanya Andin.
“Ayah hanya cari angin segar saja”.
Sehari sebelum olimpiade di mulai Andin dan Agus terus di bimbing pak Warman untuk mempersiapkan segala sesuatu dan materi olimpiade di tahun akhir mereka berdua sebelum lulus sekolah. Dalam persiapannya pak Warman selalu mengingatkan jangan sampai apa yang di raihnya tahun kemarin berpindah tangan ke sekolah lain. Andin dan Agus saling menatap mendengar ucapan pak Warman, dari tatapannya Agus seolah meyakinkan Andin untuk bisa meraih hal tersebut, berbeda dengan Andin tatapan Agus seolah olah…….ahh..sudahlah.
Seperti yang sudah di prediksi dalam olimpiade tersebut Andin dan Agus dengan mudah bisa mengatasinya dengan baik, hasil yang di harapkan sekolah pun bisa tercapai kembali.
Perjalanan pulang setelah olimpiade selesai mereka berdua menyempatkan diri untuk singgah di sebuah warung ceu Anah yang berada di ujung desa.
“Apa yang kamu rasakan hari ini?” Tanya Agus.
“Entahlah, sepertinya aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya,” jawab Andin.
“Biar aku tebak perasaanmu mungkin saat ini sama seperti ketika kamu bangun tidur dan kamu meregangkan seluruh badamu, atau bisa jadi lebih,” gurau Agus.
“Ah kamu bisa aja, hari ini kamu aku traktir biar aku yang bayar makananmu okeh,” balas Andin.
Pagi hari seperti biasa di hari minggu Agus bergegas pergi ke kebun, akan tetapi hari ini Agus pergi setelah matahari terbit. Sampai di kebun Agus terkaget ketika melihat ayah Andin sekaligus juragan pemilik kebun sudah duduk di gajebo kebun miliknya.
“Kerja seperti apa kamu Agus siang hari begini baru sampai kebun, kamu tidak malu sama ayam,” ucap juragan kebun dengan muka datar.
“Maaf pak saya bangunnya kesiangan,” balas Agus.
“Alasan saja kamu, pokoknya mulai hari ini kamu jangan lagi merawat kebun ini, biar orang lain saja yang merawatnya, kamu masih sekolah juga,” tambah juragan seraya meninggalkan Agus di kebun.
Seketika Agus duduk terdiam mendengar apa perkataan juragan tadi. Agus teringat kepada ibunya ketika dia tahu Agus sudah tidak bisa kembali merawat kebunnya juragan tadi. Padahal penghasilan satu satunya Agus adalah dari merawat kebun ini.
Andin tiba-tiba datang menghampiri Agus, akan tetapi saat itu Agus langsung pergi meninggalkan Andin tanpa sepatah katapun.
Sesampainya di rumah Agus tidak berani untuk menceritakan apa yang terjadi di kebun tadi kepada ibunya.
“Nak, tumben udah pulang lagi, ada apa nak?” tanya ibunya Agus.
“Tidak apa-apa bu, mungkin Agus mau istirahat saja hari ini,” balas Agus.
Besok hari ketika di sekolah Agus seperti menghindari Andin, terbalik dengan Andin yang selalu mencari Agus, sampai Andin memberanikan diri masuk ke kelas Agus.
“Gus kamu kenapa, kok seperti menghidar dari aku?” Tanya Andin.
“Aku kenapa-kenapa mungkin perasaan kamu,” balas Agus.
“Yasudah kalau begitu, ini ada titipan dari ayah aku,” ucap Andin.
Perasaan Agus hari itu sangat tidak karuan ketika menerima sebuah amplop pemberian Andin dari ayahnya.
Agus berpikir bahwa apa yang juragan ucapkan ketika di kebun memang benar bahwa Agus tidak boleh lagi bekerja dengannya. Lonceng pun berbunyi tanda waktu untuk pulang pun tiba, Agus saat itu langsung bergegas pulang dengan sebuah amplop yang tidak berani Agus membukanya.
Sampai di rumah, dengan berat hati Agus hanya dapat meminta maaf kepada ibunya atas apa yang terjadi.
“Bu, Agus mau minta maaf,” ucap Agus samil terisak.
“Kamu kenapa nak, apa yang terjadi?” tanya ibu.
Seketika Agus memberikan amplop yang sudah di berikan Andin kepada dirinya. Dalam Amplop tersebut hanya terdapat sebuah kartu dan secarik kertas berisi tulisan.
Dalam tulisan tersebut berisi pesan.
Nak Agus maafkan bapak temanmu ini, yang sudah tidak bisa mempekerjakan kamu lagi. Kamu memang anak yang rajin dan bertanggung jawab atas apa yang bapak percayakan kepada kamu. Akan tetapi kamu lebih baik terus belajar karena jalan hidup kamu masih sangat panjang. Maafkan juga bapak telah mendengar apa yang kamu bicarakan bersama ibumu tempo dulu. Andin sudah banyak bercerita tentangmu kepada bapak. Jadi saat ini kamu harus tetap fokus belajar. Jangan pikirkan tentang biaya sekolahmu nanti di dalam amplop ini ada kartu yang bisa kamu gunakan untuk biaya kuliah kamu nanti, dan juga biaya untuk ibumu juga. Jangan khawatir bapak akan bertanggung jawab semuanya seperti yang kamu contoh kan kepada bapak.
Wasalam.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *