Pergaulan Rasulullah SAW dengan Anak-Anak, Sikap Rasulullah Ketika Kedua Cucunya Naik ke Punggung Saat Melaksanakan Sholat

  • Share

Paslen.com – Anak merupakan amanah yang dititipkan Alloh kepada hamba-hambanya yang Dia Kehendaki. Tidak setiap orang Alloh beri amanah anak, bahkan tidak sedikit pasangan suami istri yang sudah menikah bertahun-tahun belum kunjung dikaruniai seorang anak. Sampai-sampai segala bentuk ikhtiar mereka jalani untuk mendapatkan seorang anak, salah satunya dengan mengikuti program bayi tabung. Namun hasil akhirnya tetaplah kehendak-Nya yang menentukan. Kunfayaku, apabila Alloh sudah berkehendak jadi maka terjadilah.

Bagi siapun yang sudah dikaruniai anak bersyukurlah, telah diberi amanah luar biasa yang tidak semua orang dapatkan. Maka jangan sampai sia-siakan amanah yang sudah Alloh SWT. berikan kepada kita. Rawatlah dan bimbinglah anak kalian agar memiliki akhlak yang baik, terutama dalam hal sopan santun. Dan bagi yang belum Alloh beri amanah anak, jangan berhenti berdoa dan teruslah berikhtiar Insya Alloh kalau Alloh sudah berkehendak pasti tidak akan ada lagi hijab yang menghalangi (pasti jadi).

Seperti kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Zakria yang lama menikah, akhirnya Alloh kasih keturunan juga yaitu Nabi Ismail dan Nabi Yahya, itu semua terjadi tentunya atas kehendak-Nya.

Disamping itu, bagi yang sudah Alloh titipkan amanah anak (keturunan) harus tahu bagaimana kah pergaulan Rasulullah SAW. dengan anak-anak dan keturunannya. Berikut beberapa catatan tentang Pergaulan Rasulullah dengan Anak-anak semoga menjadi tips yang berguna bagi kita semua dalam bergaul dengan anak-anak, sebagai orang tua juga sebagai temannya serta pesan penting tentang pentingnya mengajarkan sopan santun kepada anak-anak kita.

Kisah yang cukup kita hafal dan kenal adalah saat Rasulullah SAW menjadi imam shalat, para makmum heran karena sujud Beliau SAW jauh lebih lama ketimbang biasanya. Mereka mengira terjadi sesuatu pada Nabi, namun ternyata ,”Tidak ada apa-apa. Aku ditunggangi cucuku, maka aku tidak mau tergesa-gesa sampai ia puas,” terang Rasulullah SAW.

Tentang mengajarkan sopan santun dapat kita rujuk dari kisah Abu Dzar saat bersama sahabat-sahabatnya duduk berbincang dengan Rasulullah SAW (sumber rujukan suara NU), tiba-tiba kedua cucu beliau, Sayidina Hasan dan Husain, datang dan menaiki punggung kakeknya. Setelah selesai bincang-bincang, Rasulullah pun meminta kepada kedua cucu kesayangannya untuk turun.
“Wahai cucuku sayang, turunlah,” pinta Rasulullah.

Sayyinda Ali sebagai ayah menatap tajam kepada putra-putranya sehingga membuat Hasan dan Husain takut dengan tatapan ayahnya tersebut, dan akhirnya keduanya turun dari punggung Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun bertanya kepada kedua cucunya,
“Kenapa kalian gemetar wahai cucuku?” Tanya Rasulullah SAW
“Kami takut kepada ayah,” jawab polos Hasan dan Husain.
Sayidina Ali ra pun memberi pelajaran dengan memukul pelan paha kedua anaknya dan menasihati dengan nada sedikit tinggi,
“Bersopan santunlah kalian ketika ada tamu, wahai putraku.” Kata Sayidina Ali ra
Rasulullah pun berkata, “Wahai menantuku, Ali, janganlah kamu bentak Hasan dan Husain, karena mereka adalah buah hatiku.”
Ali pun langsung menundukan kepala dan berkata dengan penuh penghormatan, “Ya”.

Jibril datang dan menegur Nabi Muhammad. “Wahai Muhammad, tindakan Ali adalah benar.”
“Rawatlah, kasihlah nama yang bagus, dan perbaikilah gizi anak-anakmu, karena di akhirat nanti anak-anakmu akan memberi pertolongan,” pesan Malaikat Jibril.

Ketika mendengar teguran dan pesan tesebut, Rasulullah bersabda,
“Wahai kaum muslimin, barang siapa yang diberi anak oleh Allah, maka wajib baginya mengajarkan sopan santun dan mendidiknya dengan baik. Bilamana hal itu dilakukannya, maka Allah akan menerima permohonan syafa’at anaknya. Tapi barang siapa yang membiarkan anaknya bodoh, tidak mengenal agama, suka melakukan pelanggaran serta tidak berakhlak, maka setiap pelanggaran dan dosa yang dilakukan anak-anaknya, orang tua ikut menanggungnya”.

Begitulah sosok Rasulullah SAW yang didalam pribadinya terdapat suri tauladan yang terbaik, begitu dengan pergaulan Beliau SAW dengan anak-anak. Rasulullah SAW tidak pernah lupa untuk menyapa, bermain bersama mereka. Baik kepada anak beliau, cucu beliau, anak-anak para sahabat hingga kepada anak yatim. Terkadang Rasulullah SAW mencium, memberikan hadiah dan begitu terganggu bila mendengar tangisan mereka.

Kisah dari Abu Dzar pun memberikan kita sebuah pelajaran sebagaimana yang dipesankan oleh Rasulullah SAW tentang pentingnya kita sebagai orang tua untuk mengajarkan sopan santun dan mendidik mereka dengan baik sebagai bekal untuk kehidupan mereka dimasa datang.

Maka dari itu kita sebagai orang tua berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada mereka (anak-anak/cucu/keturunan) agar mereka bisa menjadi pribadi yang baik dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Terutama pendidikan dalam hal akhlak (sopan santun), karena apabila mereka memiliki akhlak yang baik, tentunya akan mudah juga belajar tentang kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Semoga kita semuanya diberikan keturunan-keturunan yang sholeh-sholehah yang bisa meneladani akhlak-akhlak Rasulullah SAW. sehingga bisa memberikan manfaat bagi keluarga, sesama, agama, nusa bangsa dan negara. Dan bisa menjadi bagian untuk membawa negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Aamiin.

(Dikutip dari kompasiana 23/01/2021)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: